26 November 2009

Turki (Part 3)

Cerita #11:
Di Turki ini, semua sayuran terlihat sangat menarik kalau dipajang di pasar. Semuanya besar-besar! Mulai dari terong, tomat, kentang, sampai kubis. Buat saya, yang paling menarik ya kubis ini. Bukan basa-basi, diameternya sampai lebih dari setengah meter. Minggu lalu saya ke pasar untuk belanja beberapa jenis sayuran untuk dimasak. Saya tertarik dengan kubis raksasa ini, dan memutuskan untuk membelinya. Sekadar perbandingan, di pasar tersebut sekilo kentang harganya 1 lira, sekitar 7.000 rupiah. Sekilo apel harganya 0,75 lira, sekitar 4.750 rupiah. Nah, kubis raksasa itu rata-rata sebiji 1 lira juga. Saya tidak ada masalah sih dengan 1 lira. Masalahnya adalah, kubis sebesar itu mau dimasak apa? Sampai kapan? Seminggu se-flat makan kubis melulu juga gak bakalan habis kubis raksasa itu. Alhasil, saya putuskan untuk minta dipotong saja. Pertama saya diberi potongan separuh. Buat saya masih terlalu besar. Oiya, waktu itu saya merencanakan untuk masak salad hangat ala bavaria yang berbahan dasar kubis, jadi saya tidak perlu banyak-banyak. Akhirnya saya minta dipotong lagi. Kali ini, saya diberi potongan seperempat. Masih terlalu besar, saya minta dipotong lagi. Setelah dipotong seperdelapan, rupanya si penjual bingung mau kasih harga berapa, soalnya, potongan kecil itu akan sangat murah sekali, hanya beberapa puluh sen saja. Akhirnya, dengan geleng-geleng, si penjual tertawa dan memberikan potongan kubis itu gratis saja pada saya.

Cerita #12:
Masih menyambung cerita di pasar, saya heran sekali. Saya yang beruntung, atau memang ini keberuntungan Turki buat saya? Pertama, kubis gratis. Kedua, ketika saya membeli kentang, wortel, dan daun bawang, semuanya seharga sekitar 2,5 lira (sekitar 17.500 rupiah), saya menyodorkan pecahan 20 lira ke si penjual. Ketika itu, saya benar-benar tidak punya stok receh, karena baru menukar uang di money changer. Si penjual melotot melihat pecahan 20 lira saya, dan geleng-geleng bilang bahwa dia tidak punya kembalian. Bingung lah saya. Tiba-tiba di sebelah saya ada seorang wanita berwajah Asia, yang langsung menyodorkan receh ke penjual untuk membayar belanjaan saya. Akhirnya saya tau bahwa dia seorang Korea yang (mungkin) sangat bahagia melihat sesama wajah Asia di negeri antah-berantah ini. Alhasil, saya belanja gratis lagi. Sayangnya, saya belum sempat belajar mengucapkan terimakasih dalam bahasa Korea. Kedua, saya ke kedai Body Shop untuk membeli sabun mandi dan krim badan. Di kasir, total belanjaan saya 20,50 lira (sekitar 140.000 rupiah). Saya harus membayar tunai karena kartu kredit sudah mencapai limit. Saya masih menyodorkan lembaran 20 lira, dan merogoh kantong untuk mencari koin 50 sen. Si kasir langsung geleng-geleng dan senyum, bilang yang 50 sen gratis saja. Saya berterimakasih (dalam bahasa Turki), dan geleng-geleng. Saya benar-benar heran, toko sekelas Body Shop pun memberi saya gratis 50 sen? Padahal kan ada catatan transaksi elektroniknya? Ketiga, seorang teman Turki datang ke flat saya memberi kado. Vas bungan cantik dari toko bergengsi, Pasabahce. Nah, keesokan harinya saya ke toko bunga untuk membeli isi vas tersebut. Setelah tawar menawar alot, saya dapat beberapa tangkai bunga krisan kuning dan daun zaitun seharga 1 lira. Ketika membayar, si kasir (kali ini pria) langsung memberi saya beberapa tangkai krisan merah jambu cuma-cuma. Wow! Keempat, baru semalam, kami pesta di apartemen seorang teman. Bubar jam 3 pagi, udara sangat dingin, mencapai 6'C. Sebelum keluar apartemen, saya memasang sepatu boots. Ketika hendak mencari jaket, tiba-tiba seorang teman pria, seorang Turki, sudah di belakang saya membawa jaket saya, dengan posisi siap memakaikan jaket tersebut ke badan saya. Seorang teman wanita lain yang susah payah memakai jaketnya sendiri langsung merengut memandang saya: "Why do you always get everything for free?!" katanya.. "Geez.." batin saya. Semoga keberuntungan terus berlanjut, saya menyilangkan kedua jari.

Cerita #13:
Masih tentang pesta. Di apartemen saya, yang juga disebut "Rumah Erasmus", memang penghuninya hampir semua mahasiswa Erasmus dari berbagai negara. Di flat saya, seperti saya sebut sebelumnya, isinya saya, seorang Rumania, Kroatia, dan Belanda. Di lantai-lantai lain lebih beragam, mulai Polandia, Jerman, sampai Makedonia. Apa kegiatan kami selain kuliah? Pesta! Seminggu bisa dua atau tiga kali pesta. Dimana? Bisa di apartemen, di bar, di jalanan, di pinggir laut, sampai di stasiun kereta! Memang sulit dipercaya, tapi sebulan lalu ada pesta besar yang disebut "Erasmus Welcoming Party", dihadiri sekitar seribu mahasiswa Erasmus di Istanbul, bertempat di stasiun tua di daerah Eminonu. Tidak sedikit yang sering telat kuliah dengan kacamata hitam atau muka hangover. Pokoknya, kalau Anda ketemu seorang mahasiswa Erasmus dan bilang dia belajar di luar negeri (studying abroad), jangan langsung percaya. Saya juga heran, mahasiswa Erasmus ini studying abroad atau partying abroad sih (saya harus berkaca di cermin)?.

Cerita #14:
Seorang teman asal Austria tiba-tiba menghilang minggu lalu. Tau-tau dia kirim teks lewat skype dan bilang bahwa dia di Bulgaria. Semua langsung heran dan kebingungan. Ngapain di Bulgaria? Jawabannya singkat saja: bosan have fun di Istanbul, malam ini di Sofia saja. Memang cuma makan waktu beberapa jam saja naik bus ke ibukota Bulgaria itu, tapi, dalam bayangan seorang Indonesia seperti kita, paling tidak saya, yang namanya luar negeri itu amatlah jauh. Mengingat kondisi geografis negara kita yang antah berantah itu. Saya pun baru "bangun" di sini ini. Setelah kejadian Bulgaria itu, seorang teman asal Turki pun berakhir pekan di Yunani. Saya baru sadar pada akhirnya bahwa konteks "luar negeri" di sini itu memang nggak terlalu "luar" banget. Dekat, murah, praktis, dan ayo! Bayangkan, kalau semua lancar, saya akan pindah ke Nice, Perancis, tanggal 5 Januari nanti, melanjutkan jalan-jalan (eh, maksudnya kuliah) tahap 2 saya. Dari minggu lalu, saya sudah punya janji dengan seorang teman Indonesia untuk ketemuan di Monako di akhir minggu kedua Januari. Jangan salah sangka, Monako cuma setengah jam dari asrama saya di Nice pakai bus umum! Akhir minggu ketiga Januari, saya punya janji dengan teman lain di Marseillles, mungkin kami akan langsung ke Barcelona, Spanyol, yang makan waktu cuma 5 jam saja. Nah, di akhir Januari, saya punya janji lain ke Milan, Italia, yang cuma makan waktu 3 jam saja dari asrama. Indahnya hidup! Terimakasih Tuhan! Jadi, kalau Anda sempat ketemu saya online, baik di YM, FB, atau Skype, tolong buzz saya dan bilang "Kapan belajarnya? Kapan nulis tesisnya?"

Cerita #15:
Di Istanbul ini kok airnya aneh ya? Ya rasanya, ya warnanya. Apa cuma distrik Beyoglu? Atau semua? Baju putih saya berubah jadi putih gading semua. Gigi saya kemungkinan juga begitu. Yang paling mencolok perubahannya adalah rambut saya! Pertama kali datang kemari, rambut saya gelap sekali. Pada dasarnya, rambut saya memang tidak hitam. Tanpa dicat pun, warnanya coklap gelap. Nah sekarang, coklatnya jadi terang sekali! Teman-teman saya pun menyadarinya, mereka pada tanya, kok rambut legam saya ada kilau coklat mudanya ya sekarang? Hipotesis saya sih air Istanbul yang mengontaminasi. Mungkin terlalu banyak kaporit, terlalu banyak pemutih (bleach), rambut saya jadi ter-bleached juga deh.

13 November 2009

Turki (Part 2)

Cerita #6:
Istanbul memang kota terbesar di Turki, tapi negara kita tercinta belum punya perwakilan di sini. Satu-satunya perwakilan RI adalah KBRI di ibukota Turki, Ankara. Dengar-dengar sih, sebentar lagi KJRI akan segera dibuka di Istanbul. Saat ini, sudah ada konsulat kehormatan, semoga saja, KJRI benar-benar akan aktif mulai tahun depan. Nah, suatu sore, saya jalan-jalan di sepanjang pinggiran Selat Bosporus. Secara kebetulan, saya yang waktu itu jalan bersama dua orang rekan kuliah yang berasal dari negara kaya di Eropa, melihat sebuah bangunan yang nantinya akan jadi KJRI. Bangunan ini jauh lebih bagus dan sophisticated dibandingkan konsulat negara-negara lain, termasuk negara asal teman-teman saya ini. Lokasinya pun meyakinkan, di pinggir laut yang indah. Kalau konsulat teman saya itu berada di daerah padat dan pusat perbelanjaan, bayangkan saja Kuta Square, maka konsulat kita ini berada sama strategisnya dengan Hard Rock cafe di pinggir Kuta. Sudah ada papan tulisan "Consulate of The Republic of Indonesia" disitu. Salah satu teman saya langsung menoleh ke saya dan bilang "are you sure that this is your consulate?" Saya jawab dengan anggukan enteng tanpa menoleh. Sayup-sayup saya dengar "Damn! But this looks like a consulate of a very rich country!" Saya langsung menoleh, melotot, dan berkacak pinggang.

Cerita #7:
Di minggu pertama saya di Turki, seorang teman dari Indonesia sudah mengingatkan bahwa saya harus mendaftarkan ponsel saya, handset-nya, bukan nomer-nya. Tapi waktu itu saya tidak hiraukan. Saya pikir, dimana-mana yang namanya registrasi ponsel kan cukup registrasi nomor SIMnya saja, tidak perlu ponselnya. Di hari ketujuh, teman kuliah saya yang asal Italia bete berat karena ponselnya tidak berfungsi. Setelah ke kantor Vodafone, operator yang dia gunakan, dia tahu bahwa ponselnya diblok karena tidak didaftarkan. Saya masih tenang-tenang saja. Di hari kesepuluh, saya bangun tidur dan mendapati ponsel saya tidak berfungsi. Langsung saja saya berkesimpulan bahwa akhirnya ponsel saya diblok juga. Saya langsung bertanya ke teman-teman satu flat saya yang juga membawa ponselnya dari negara masing-masing, Belanda, Kroatia, dan Rumania, dan tidak satupun ponsel kami yang berfungsi hari itu. Saya penasaran dan akhirnya browsing di internet tentang sistem telekomunikasi di Turki. Menurut pengalaman saya, ponsel saya ini tidak pernah bermasalah di beberapa negara yang pernah saya kunjungi. Akhirnya saya temukan data bahwa pemerintah Turki mengharuskan ponsel dari luar negeri untuk didaftarkan untuk menghindari aksi terorisme yang menggunakan ponsel untuk meledakkan bom. Ketika saya ceritakan ini ke teman saya yang belajar teknologi nuklir di Jepang, jawabannya singkat saja: pemerintahnya kebanyakan nonton film tuh!

Cerita #8:
Di Indonesia, entah benar entah salah, tapi saya selalu merasa bahwa orang asing kulit putih selalu dinomorsatukan ketimbang pribumi macam saya ini. Mereka selalu saja diistimewakan, entah itu di kampus, di mall, di bis, dimanapun. Di Turki ini, saya juga orang asing. Tapi kulit saya lebih gelap dibanding pribumi Turki sini. Rambut saya lebih gelap dibanding rambut mereka. Postur saya juga lebih pendek dibanding mereka. Jadi, saya tadinya merasa bahwa saya orang asing buat mereka, tapi tidak seperti 'bule' di negara kita. Sampai suatu hari, saya butuh memfotokopi paspor saya, sehingga saya pergi ke tempat fotokopi milik kampus. Setelah selesai, saya menanyakan berapa saya harus bayar, tapi petugas fotokopinya menolak uang saya dan menggratiskan jasa kopinya. Sementara di sebelah saya, dua gadis Turki harus membayar beberapa puluh sen ketika menerima kopian dokumennya. Itu baru satu. Setiap pagi, ketika memasuki gerbang kampus yang sudah mirip penjara itu, setiap mahasiswa harus menunjukkan kartu mahasiswanya. Artinya, kalau bukan mahasiswa, tidak boleh masuk kampus kami. Tapi asal tahu saja, sejak hari pertama kuliah sampai detik ini, saya tidak pernah sekalipun repot-repot membongkar dompet untuk menunjukkan kartu. Tiap pagi saya cukup tersenyum ke ibu satpam yang rada galak itu dan bilang halo. Teman Turki saya sewot sambil menggerutu: "oh, so an hello is your pass.."

Cerita #9:
Menjadi orang Indonesia itu istimewa. Orang Indonesia itu beruntung. Siapapun di antara Anda yang sedang membaca cerita ini dan pernah menyesal karena menjadi Indonesia, Anda salah besar karena menyesal menjadi Indonesia. Teman kuliah saya berasal dari banyak negara, mulai dari Kanada, Belanda, Prancis, Austria, Makedonia, sampai Nigeria. Dan mereka kompak menganggap saya yang paling unik. Kenapa? Karena saya satu-satunya yang tidak punya nama keluarga. Saya satu-satunya yang tidak harus mengganti nama saya dengan nama belakang suami ketika saya nanti menikah. Saya satu-satunya yang sangat tidak sabar menanti salju turun karena saya tidak pernah melihat salju, sementara mereka semua mengutuk udara yang semakin hari semakin dingin. Saya satu-satunya yang punya makanan dan masakan yang (menurut mereka) sangat enak dan kaya rasa. Saya satu-satunya yang menurut mereka punya warna kulit ideal dan pas 'tan'nya bagi mereka, walaupun dalam hati saya selalu berharap menjadi kulit putih seperti mereka. Karena itulah, banggalah menjadi Indonesia. Karena kita sangat unik.

Cerita #10:
Seperti orang Indonesia, orang Turki --paling tidak beberapa yang saya jumpai-- ini warm blooded. Beberapa hari yang lalu seorang teman asal Prancis mengundang saya makan crepes di flatnya. Ketika mencari alamat flatnya, saya nyasar. Kebetulan --seperti biasa-- saya nggak punya pulsa untuk menelepon si teman. Alhasil, saya bertanya ke seorang Ibu yang berdiri di depan pintu utama apartemennya. Si Ibu tidak berbahasa Turki, tapi terlihat semangat sekali membantu saya. Saya ditariknya dan diajak berjalan ke suatu tempat. Tadinya saya pikir mau diantar ke alamat yang saya cari, ternyata saya dibawa ke kantor perusahaan taksi. Saya sempat panik juga karena naik taksi memang bukan prioritas utama saya mengingat mahalnya tarif. Tiba-tiba seorang Bapak yang telah berbicara dengan Ibu tadi (semua dalam bahasa Turki yang sama sekali tidak saya mengerti), mempersilakan saya masuk taksi dan dia pun masuk. Rupanya, Bapak ini juga penumpang taksi, tapi beliau mempersilakan saya nebeng sampai tujuan saya tanpa membayar. Malam kemarin, sepulang makan malam dengan teman-teman kuliah saya, mereka semua memutuskan untuk pergi ke pub, sementara saya memilih pulang. Karena makan malamnya formal, saya mengenakan gaun pendek dan sepatu tumit tinggi. Tiba-tiba hujan deras dan flat saya masih lumayan jauh. Seorang Bapak yang berpayung berbicara dengan saya dalam bahasanya, yang walaupun saya tidak mengerti, tapi saya paham bahwa dia meminta saya nebeng di payungnya. Dia bahkan mengantar saya sampai gang flat saya. Wow!

31 Oktober 2009

Turki


Cerita #1:
Sebelum datang kemari, saya membayangkan bahwa Turki sebuah negara muslim yang konservatif (mungkin saya kurang mencari informasi). Faktanya, saya terkejut sekali ketika melihat dan merasakan atmosfer kehidupan yang sangat Eropa di hampir setiap sisi Istanbul. Gaya pakaian yang modis ala Eropa lengkap dengan stockings, boots, dan scarves (bahkan ketika cuaca tidak dingin); wajah-wajah Eropa dengan rambut pirang dan kulit pucat; plus budaya kebarat-baratan seperti berciuman di muka umum dan di taman-taman. Yang lebih lucu lagi, di hari pertama saya sampai Istanbul, saya berusaha mencari tau arah kiblat, dan tidak satupun tetangga saya yang tahu. Saya harus menemukan masjid dulu untuk akhirnya mengetahui kemana arah kiblat dari Istanbul. Kemarin, kami berdiskusi di kelas tentang proses masuknya Turki ke Uni Eropa, dan ketika saya menggunakan istilah "moslem country" untuk merujuk Turki, si dosen langsung merengut dan bilang kami ini "predominantly moslem populated country".

Cerita #2:
Istanbul ini padat sekali! Ketika pertama kali sampai di bandara dan naik taksi menuju ke asrama, supir taksi yang saya tumpangi dengan semangat bercerita (dengan bahasa inggris terbata-bata) bahwa ada 20 juta orang hidup di Istanbul. Di beberapa jalan utama misalnya Jalan Istiklal benar-benar tampak lautan manusia yang tidak pernah habis, mau pagi kek, siang kek, sore kek, sampai malam dan pagi lagi, jalanan selalu penuh dengan manusia, macet, bukan macet kendaraan seperti di Jakarta, tapi macet manusia. Setiap naik bis, metro, tramvay, atau kendaraan umum darat lainnya, kesempatan untuk dapat tempat duduk sangat kecil.

Cerita #3:
Masih tentang transportasi umum, yang ini negara kita sudah tertinggal jauh. Selain punya sistem metro bawah tanah layaknya negara-negara Eropa lain, Turki juga punya kereta gantung yang mereka sebut Teleferik. Kita juga punya sistem ini, tapi hanya untuk tujuan rekreasional, seperti yang ada di TMII. Malaysia pun punya, seperti yang ada di Genting Highland. Tapi di Istanbul ini, kereta gantung atau cable car atau teleferik ini benar-benar dipakai untuk sarana transportasi umum untuk menyeberang dari satu bukit ke bukit lain, mengingat kontur bumi Istanbul yang sangat berbukit-bukit. Metode dan nilai tiketnya juga persis seperti tarif metro dan bis saja, 1,5 Lira atau sekitar 0,75 euro.

Cerita #4:
Sejak sampai disini saya belum pernah sekalipun berolahraga. Tadinya saya pikir jalan dari asrama ke kampus setiap hari saja sudah cukup. Apalagi, jalannya naik turun. Di kampus ada kolam renang dan tempat fitnes, tapi berbayar, jadi saya belum pernah mencobanya. Ketika iseng-iseng jalan-jalan, betapa terkejut saya menemukan fakta bahwa hampir di setiap taman yang ada di Istanbul, pemerintah menyediakan alat-alat fitnes gratis di tempat-tempat terbuka. Ada sepeda statis, air walker, angkat beban, alat sit up, dan berbagai alat lain seperti yang biasa kita temui di tempat fitnes berbayar. Bagusnya lagi, masyarakat Istanbul benar-benar memanfaatkannya dengan baik. Saya membayangkan, kalau fasilitas semacam ini ada di negara kita, besi-besinya pada dicuri dan dijual kali ya?

Cerita #5:
Yang ini jelas merupakan karakteristik paling unik milik Istanbul. Secara geografis, setengah dari Istanbul berada di kawasan Benua Eropa, sementara setengah lainnya berada di kawasan Benua Asia. Kedua kawasan ini dipisahkan oleh Selat Bosforus yang dihubungkan dengan sebuah Jembatan Bosphorus sepanjang 1,5 kilometer. Kebanyakan rekan saya tinggal di sisi Asia, dan sekolah di sisi Eropa. Bayangkan, menyenangkan sekali ya setiap hari lintas benua ketika berangkat kerja atau sekolah, melewati sebuah gapura raksasa bertuliskan "Selamat Datang di Sisi Eropa" dan "Selamat Datang di Sisi Asia"

30 Juni 2009

Dari Kantor ke Kantor (Unessentials)

Story #1:
Hari Jumat yang lalu saya pergi ke Kantor Pajak untuk menguruskan NPWP teman saya yang berdomisili di Tokyo. Saya pergi ke kantor tersebut dengan seorang sahabat, Eva, yang juga sama seperti saya belum pernah mengurus NPWP. Sesampainya di sana kami disambut beberapa pemuda tampan berbaju batik (saya selalu tergila-gila pada pria berbaju batik :D). Salah satunya bernama Arif, yang kemudian melayani kami. Dari beramah-tamah biasa, dia mulai memproses pembuatan NPWP teman saya itu. Di akhir pelayanan, dia meminta materai pada saya, karena ada surat pernyataan yang harus ditandatangani di atas materai. Terang saja saya tidak membawa materai, karena memang tidak disebutkan pada daftar dokumen yang harus saya siapkan. Percakapan yang menarik kemudian adalah:
Saya: "Lha kalo emang butuh materai, kenapa ga disiapkan aja di sini, terus saya tinggal bayar?"
Arif: "Udah banyak yang komplain gitu sih Mbak.."
Saya: "Terus?"
Arif: "Ya.. Nggak tau deh Mbak.. Mbak-nya cari materai aja dulu di Kantor Pos.."
Saya: "?&%#?!@*!"

Story #2:
Pagi tadi saya ke Kantor Polisi Resor Kota untuk memperpanjang SIM A saya yang ternyata sudah habis sejak bulan lalu. Setelah membaca prosedur perpanjangan SIM A dan menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan, saya kemudian diharuskan mengikuti tes kesehatan. Saya kemudian menuju ke meja informasi untuk menanyakan lokasi tes kesehatan tersebut. Disambut ramah oleh seorang Polisi yang kemudian menunjukkan lokasinya, ada percakapan menarik setelahnya:
Polisi: "Mbak, jadi polisi aja Mbak.."
Saya: "Kenapa emangnya Pak?"
Polisi: "Habis giginya bagus sih.."
Saya: "?&%#?!@*!"
Polisi: Jangan kuatir Mbak.. Sekarang Polwan dapet uang kecantikan lho!"
Saya: "?&%#?!@*!"

Story #3:
Akhirnya saya sampai juga ke lokasi tes kesehatan untuk perpanjangan SIM tersebut. Kemudian saya duduk di depan sebuah meja, menghadap ke seorang dokter muda yang kemudian menanyai saya tentang beberapa hal dan memeriksa tekanan darah serta mata saya. Sesuai prosedur, saya diminta menyerahkan fotokopi KTP dan SIM A lama ke dokter tersebut. Percakapan yang menarik kemudian:
Dokter: "Kuliah dimana?"
Saya: "Di UGM.. Beberapa waktu yang lalu.." *tersenyum manis*
Dokter: *membolak-balik fotokopi KTP saya* "Wah, di KTPnya ga ada nomor hape-nya ya?"
Saya: *nyengir" "Hehehehe.."
Dokter: "Tapi ada alamatnya nih.. Saya langsung samperin ke rumah aja ya.."
Saya: "?&%#?!@*!"

Story #4:
Ini yang paling menarik buat saya. Setelah SIM A baru saya jadi, saya langsung meluncur ke Kantor Pajak untuk mengurus NPWP saya sendiri. Sayangnya, hari ini para pegawai magang di kantor pajak tidak mengenakan batik.. :( Anyway, saya langsung dilayani di bagian pengurusan NPWP oleh seorang "Mas" yang jutek sekali. Tidak menegur saya sama sekali, hanya manggut-manggut. Setelah proses selesai, saya dilempar ke bagian pengambilan kartu, dan gubrak! Saya terpana sekali melihat siapa yang ada di bagian ini. *Yang ini saya dedikasikan ke seluruh "max-speeders". Manusia yang melayani saya kemudian adalah Rahman Ari Mulyaji atau yang dengan kasih sayang selalu kita panggil PunkRock! Iya, PunkRock yang 5 tahun lalu adalah siswa paling jorok di Aksel 2 Smanti, nilai ulangan selalu pas-pasan, selalu heboh kalo ada tugas, tampang juga pas-pasan, siang ini saya temukan sudah bertugas dengan pantalon hitam dan kemeja lengan panjang rapi. Wah, tidak terasa ya? Begitu cepat waktu berlalu dan dunia berubah.. Satu-satunya percakapan yang terjadi adalah;
Saya: "Temenmu ada yang single gak?"
PunkRock: "Loh?! Emang kamu single sekarang??"
Saya: "Hello..!"
PunkRock: "Lha yang **ru itu gimana?"
Saya: "Basi!"

Ok then, overall pelayanan di ketiga kantor itu memuaskan kok, cepat, sigap, dan ramah sekali.

27 Juni 2009

Mengantri Toilet

Beberapa kali saya mencoba bertahan untuk tidak menulis posting ini, tapi akhirnya saya gerah juga setelah berkali-kali --seumur hidup saya-- mengalami kejadian yang sama. Karena itu, akhirnya saya putuskan untuk menulisnya, sekadar untuk berbagi cerita.

Saya adalah tipe orang yang butuh berkali-kali ke restroom, dalam bahasa lain, sering sekali kebelet pipis. Karena itu, toilet, baik di pusat perbelanjaan atau mall, stasiun atau bandara, maupun di tempat keramaian manapun, adalah salah satu kebutuhan utama saya. Saya bukan hendak mengeluh tentang kebersihan toilet (ini mah udah basi, dikomplain juga ga ngaruh..), juga bukan hendak mengeluh tentang penjaga toilet (yang kebanyakan suka nggosip di wastafel), juga bukan hendak mengeluh tentang tisu toilet yang habis atau eco-washer yang macet, tapi saya ingin berbagi cerita tentang sistem pengantrian toilet di negara kita tercinta ini. Buat Anda-Anda yang kebetulan sudah pernah mengantri toilet di tempat lain selain negara kita tercinta kita ini, pasti Anda sangat paham akan keluhan saya..

Bayangkan jika di dalam sebuah restroom wanita di sebuah mall terdapat delapan bilik toilet. Bayangkan juga bahwa kedelapan bilik tersebut sedang "berpenghuni" semua. Artinya, ketika saya datang, saya harus menunggu salah satu dari mereka keluar sehingga saya dapat memakai bilik yang kosong. Secara logis, saya mengantri di luar wilayah (jalan masuk sebelum) delapan bilik tersebut. Harapannya, saya bisa masuk ke bilik manapun yang pertama kali kosong (ilmu ini saya serap dari sistem di beberapa negara maju). Logikanya pula, orang yang datang setelah saya, harus mengantri di belakang saya, sehingga dia akan mendapat bilik kedua yang kosong. Namun faktanya apa? Di Indonesia yang indah ini, tidak begitu aturannya. Orang-orang mengantri bukan di luar wilayah bilik-bilik, tapi mengantri di depan pintu bilik! Mereka dengan iseng memilih pintu bilik m-a-n-a-p-u-n. Artinya, sekalipun saya datang duluan dan saya memilih mengantri di luar bilik, kalau ada orang setelah saya yang langsung stand by di depan bilik nomor tiga, dan bilik nomor tiga kemudian kosong, dialah yang langsung masuk! Bukan saya! Sebaliknya, jika saya ikut-ikutan mengantri di depan pintu bilik, kalau saya memilih bilik nomor satu misalnya, kemudian orang setelah saya memilih bilik nomor dua, dan ternyata bilik nomor dua kosong duluan, orang itu mendapat jatah toilet lebih dulu daripada saya yang notabene datang lebih dulu. Aneh sekali ya sistem ini? Bukankah who comes first gets first? Bukankah seharusnya garis antrian dibuat di luar wilayah bilik-bilik, sehingga bilik manapun yang kosong lebih dulu, bisa dipakai mereka yang datang duluan? Bukankah tidak etis menggunakan bilik kosong padahal kita datang belakangan, dan ada orang lain yang datang duluan dan lebih kebelet pipis? Bukankah kita diajari pendidikan moral? Bukankah seharusnya sistem yang lebih baik yang kita gunakan? Bukankah orang Indonesia itu sopan-sopan? Bukankah? Bukankah?

16 Juni 2009

Ibu Rumah Tangga

Posting saya bulan Juni setahun yang lalu, berjudul Getting Married, menceritakan protes saya terhadap seorang sahabat yang memutuskan untuk menikah muda, mengikuti sang calon suami berdinas di Papua, dan menjadi ibu rumah tangga. Kala itu saya merasa keputusan sahabat saya itu sangat prematur dan akan berakibat penyesalan nantinya. Saya merasa keputusannya hanya akan menghambat semua cita-cita dan mimpi yang belum sempat teraih. Prestasi akademiknya hanya akan terkubur begitu saja kalau dia menikah muda dan menjadi ibu rumah tangga. Dia tidak akan punya kesempatan meraih mimpi atau mengembangkan karier kalau ia benar-benar menikahi si pujaan hati.

Tapi itu tahun lalu. Detik ini, hampir tepat setahun semenjak pemikiran di atas terlintas di kepala saya, semuanya berubah. Tidak pernah ada yang akan tahu memang, mengenai apa yang dapat terjadi dalam kurun waktu satu tahun. Dan di setahun belakangan, tanpa saya sadari, ada sebuah proses yang terjadi pada hidup saya yang memberi saya pandangan lain mengenai pernikahan. Hubungan saya dengan mantan kekasih yang berakhir berantakan, dan pertemuan saya dengan seseorang yang baru, membuat saya kemudian membuka mata dan berpikir bahwa bisa jadi, menjadi ibu rumah tangga bukanlah akhir dari segalanya. Bukan penghambat kesuksesan berkarier, bukan penghalang kesempatan belajar, dan bukan kiamat. Dengan menjadi ibu rumah tangga, bukan berarti nantinya saya tidak bisa sukses kan? Karena saya baru sadar bahwa parameter sukses itu sangat relatif. Lantas dengan pemikiran baru saya ini, seorang teman yang lain bertanya: lalu buat apa sekolah tinggi-tinggi dan menjadi pintar kalau akhirnya "hanya" jadi ibu rumah tangga? Tentu agar saya menjadi wanita yang cerdas, yang mampu melahirkan dan mendidik generasi baru yang cerdas-cerdas pula nantinya. Saya pun pada akhirnya menjadi kagum pada mereka, yang punya cita-cita tinggi, untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik.

Kita boleh berencana. Saya boleh punya rencana. Dulu saya ingin menjadi ini, menjadi itu, menjadi wanita karier yang sukses, menjadi wanita hebat yang pintar. Tapi bisa jadi, apa yang sudah lama saya rencanakan itu bukanlah jalan yang terbaik bagi saya. Siapa yang tahu, bahwa pada akhirnya nanti, bisa jadi ibu rumah tangga adalah pilihan profesi yang terbaik bagi saya. That's why, don't make plans, make options.

23 Maret 2009

Anda, Kekasih Anda, dan Facebook

Story #1
Minggu lalu, Kompas Minggu mengulas tentang demam facebook di kolom urban. Di ulasan itu diiceritakan bagaimana banyak orang tergila-gila pada facebook, sampai-sampai merelakan banyak waktu di sela-sela rutinitas untuk sekadar mengecek apa yang sedang "terjadi" di facebook. Bahkan, situs kesayangan Anda (dan saya) ini pun juga digandrungi para Ibu rumah tangga. Salah satu cerita, sepasang kekasih akhirnya bersepakat untuk menutup account facebook mereka berdua karena situs ini seringkali menimbulkan percekcokan akibat tulisan-tulisan di "wall" yang berasal dari teman perempuan si pria atau sebaliknya.

Story #2
Beberapa hari yang lalu, seorang teman dari pacar saya, sebut saja Daun, juga sedikit (atau banyak, entahlah) berkonflik dengan kekasihnya, sebut saja Bunga. Kali ini gara-gara "wall" juga, ditambah sebuah foto "aneh bin ajaib" hasil "tag" yang melibatkan si pria dan seorang wanita lain.

Story #3
Akhirnya terjadi juga pada saya, yang sempat bertengkar hebat dengan kekasih saya hanya gara-gara komentar terhadap sebuah foto di situs ini. Pertengkaran ini akhirnya secara konyol merembet pada beberapa hal di "inbox" dan "wall", yang juga melibatkan situs ini dan salah satu situs pertemanan lainnya.

Story #4
Hari ini, seorang teman saya, sebut saja Bulan, sampai bengkak matanya (dan mungkin juga kakinya), karena bertengkar dengan kekasihnya. Tak lain dan tak bukan, "inbox" di facebook lah biang keroknya. Si pria, sebut saja Bintang, sepertinya masih bertukar info lewat facebook dengan sang mantan kekasih.

Story #5
Ini yang paling parah. Salah satu sahabat saya, sebut saja Pink, sampai hampir membatalkan pertunangannya dengan kekasihnya, sebut saja Blue. Iya, pertunangannya! Hanya gara-gara sang pria banyak berkenalan dengan beberapa wanita lewat situs ini, dan kemudian saling mengekspos perhatian via "wall".

Di luar lima cerita yang ada di atas, saya yakin Anda atau siapapun di dekat Anda, sedikit banyak pernah mengalami masalah yang serupa. Mari kita analisis sekarang. Apa sih sebenarnya facebook ini? Seberapa kekuatannya sampai bisa menggoyahkan sebuah hubungan? Konyol memang kalau dipikir-pikir. Tapi, harus diakui bahwa facebook memang punya kemampuan propaganda yang relatif kuat, mengingat tingkat publisitas dan jumlah pengikutnya yang tinggi. Sekarang, saya harus belajar lebih berpikir dengan akal sehat, jadi tidak perlu dengan konyol bertengkar dengan orang yang kita cintai hanya karena situs ciptaan mahasiswa AS ini.

PS: Jika ada kesamaan nama atau cerita, harap dimaafkan. Namanya juga facebook! ;)